Lifestyle

Ikut Pinjaman Online, Guru Honorer Kena Imbas

Djonews.com, UNGARAN  – Afifah Muflihati (29) yang bekerja sebagai guru honorer di Kabupaten Semarang harus menghadapi kejadian yang tak disangka sebelumnya. Kejadian bermula ketika dirinya mengalami kebutuhan mendesak dan akhirnya melakukan pinjaman online.

Dirinya mengaku saat itu terdesak karena tidak memiliki uang sepersenpun untuk membeli kebutuhan susu untuk kedua anaknya. Ketika melakukan pinjaman online dirinya merasa ringan karena diberi pinjaman uang tanpa jaminan, bunga rendah, proses cepat, dan jangka waktu yang lama.

“Saya merasa ini bisa menjadi solusi untuk membantu saya mendapatkan pinjaman uang tanpa proses yang ribet. Sebelum pinjam di pinjaman online tersebut, sempat mau pinjam uang ke teman-teman, tapi kondisinya sama dengan saya, jadi saya urungkan,” ucapnya, Senin (16/8/2021).

Afifah mengungkapkan, dia mengajukan pinjaman sebesar Rp 5 juta karena tergiur bunga rendah 0,04 persen dengan waktu 91 hari.

“Prosesnya sangat cepat, tidak sampai lima menit sudah selesai. Saya hanya diminta untuk foto diri dan foto KTP, serta foto memegang KTP. Tidak ada lima menit, ada transferan Rp 3,7 juta dari tiga aplikasi online ke rekening saya,” tandas Afifah.

Karena uang yang diterima tidak sesuai pengajuan, Afifah berpikir ada potongan administrasi. Selain itu, uang dibiarkan di rekening karena dia belum izin kepada suaminya untuk pengajuan utang.

Namun, bukannya mendapat kemudahan dirinya justru mendapatkan ancaman juga dipermalukan, dan menghadapi teror dari pelaku pinjaman online ilegal setiap hari. Akhirnya, memasuki hari kelima, tanggal 25 Maret 2021, Afifah mendapat pesan WA untuk melakukan pelunasan.

“Namun, tidak saya gubris, karena uang transferan juga belum saya pakai. Ternyata semakin menjadi-jadi, penagihannya seperti teror dan menyasar ke kontak ponsel saya,” ujarnya.

Pada hari ketujuh mulai ada teror WA ke rekan-rekan Afifah yang ada di kontak phonebook, dari kisaran 200 kontak, 50 di antaranya mendapat WA penagihan sebagai penjamin.

Karena merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut, Afifah mulai berupaya mengembalikan uang yang dipinjamnya.

“Pinjam Rp 5 juta, diterima Rp 3,7 juta, disuruh melunasi Rp 5,5 juta,” ungkap Afifah.

Tanpa pikir panjang, karena terus menerima teror penagihan, Afifah kembali melakukan pinjaman online lainnya untuk membayar utang pelunasan. Total, ada 40 aplikasi pinjaman online ilegal yang diakses Afifah.

“Bisa dikatakan gali lubang tutup lubang di pinjol itu. Tapi setelah dihitung malah utangnya jadi Rp 206 juta,” ucapnya.

“Selain kata-kata kotor, ada foto editan seolah telanjang dan disebar ke kontak WA yang ada. Kata-katanya juga penuh ancaman, fitnah, dan mencemarkan nama baik,” ucapnya.

Dia sempat trauma dan tak mau memegang ponsel karena banyak temannya bertanya mengenai kejadian yang dia alami.

Karena merasa tak nyaman dengan teror tersebut, Afifah berupaya melunasi pinjamannya. Dia akhirnya menggadaikan sertifikat rumahnya dan uangnya ditransfer ke aplikasi tersebut sebesar Rp 20 juta.

“Jadi ada Rp 158 juta yang sudah dikembalikan, tapi masih ada tagihan Rp 48 juta. Kalau dihitung, saya malah rugi Rp 75 juta,” ucapnya.

Dia berharap kejadian yang menimpa dirinya tak dialami orang lain. Sehingg, dalam kondisi terpepet sekalipun, jangan melakukan pengajuan utang di pinjaman online ilegal.pjo

Tags: , , ,
avatar

Kunairoh

An editor at WordPress Website
View Articles


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan artikel ini

Categories